Warningmagz Compilation Vol. 1 – 2017


Warningmagz Compilation Vol. 1 – 2017 Digital Released on April 2017
All songs are property and copyright of their Artists.

Track List

  1. After The Rain - Acemojo
  2. Aku Harap Laguku - Agoni
  3. The Great Depression - Ash Shur
  4. Not Dead Enough - Egon Spengler
  5. Peluru - Kota & Ingatan
  6. Cosmic Still - Marsmolys
  7. Gales The Stargazer - Murphy Radio
  8. Legacy of The Moon - Niskala
  9. If You Want - Sugar Kane
  10. Intisari - Summerchild
  11. Kisah Kampungku - Umar Haen
  12. Sub-district - Whitenoir

Spotify Audio Preview




Credits

Recorded, Mixed & Mastered oleh masing-masing artist terkait.
Compilation Album diprakarsai dan dirilis online oleh Warningmagz Yogyakarta Indonesia.
℗ 2017 Digital Released oleh Netrilis melalui iTunes, Spotify, Deezer dan platform download & stream lainnya.
Album Launching Photo oleh Noe Prasetya
Album Artwork:
  1. After The Rain Artwork by Tanaya Sompit
  2. Aku Harap Laguku Artwork by Dellana Arievta
  3. The Great Depression Artwork by Enkankomr
  4. Not Dead Enough Artwork by Chrisna Fernand
  5. Peluru Artwork by Bodhi IA
  6. Cosmic Still Artwork by Sekar Bestari
  7. Gales The Stargazer Artwork by Isnain Bahar
  8. Legacy of The Moon Artwork by Doni Singadikrama
  9. If You Want Artwork by Harry Jow
  10. Intisari Artwork by Matamerahcomix
  11. Kisah Kampungku Artwork by Reza Kutjh
  12. Sub-district Artwork by Dian Ultramanminmun


Documentation

Warningmagz: Masa open submission untuk kompilasi ini sendiri kami buka sejak tanggal 25 Februari lalu. Selama 10 hari—deadline tanggal 5 Maret— lebih dari 100 band dari berbagai kota telah mengirimkan karya mereka. Tak berhenti di situ, kami mengundang 13 seniman muda untuk merespon 12 lagu yang terpilih. Hasilnya adalah kolaborasi karya audio-visual yang menjanjikan. Sebuah laku yang kami harap bisa memantik ide-ide kolaborasi lain, sehingga makin banyak karya-karya yang bisa dirayakan. Album kompilasi ini akan didistribusikan secara online di beberapa kanal. Kami berencana menjadikan ini sebagai proyek jangka panjang, sebagai wadah untuk berkarya dan berjejaring. Karena tidak ada ide yang lebih baik daripada ide yang diwujudkan. Long Live Creativity!

Release Party (Pesta Kolaborasi Padat Karya - 24 April 2017, Sangkring Art Space - Yogyakarta)











Begini kira-kira gambaran situasi hari Jumat 24 April 2017 lalu di Sangkring Art Space: ratusan orang datang bahkan sejak maghrib belum turun benar. Begitu malam tiba, sebagian sibuk menggila dengan goyangan badan liar di area panggung musik, sebagian memadati lorong tempat pameran artwork, sebagian berkerumun dengan cengkrama akrab di area outdoor tempat lapak, sebagian bolak-balik kesana-kemari tak mau ketinggalan satupun keriuhan di berbagai titik. Malam itu, mereka berkumpul untuk pesta rilis album WARN!NG Compilation Vol. 1 – 2017. Proyek yang diinisiasi oleh Titah AW dari WARN!NGMAGZ ini melibatkan 12 band dan 13 seniman dalam sebuah kolaborasi audio-visual. Proses yang dimulai dari open submission dan seleksi sejak Maret lalu akhirnya membuahkan 12 lagu yang direspon oleh 13 seniman visual.

Pameran artwork untuk merespon lagu diadakan di lorong Sangkring Art Space. Dalam ukuran cukup besar, masing-masing artwork dipajang di dinding lorong yang hari itu difungsikan sebagai galeri sekaligus gerbang masuk ke arena keriaan lain. Dua poster berukuran besar tertempel di bagian luar Sangkring Stock Room terlihat mengokupasi venue. Mengawali gelaran gig seru malam itu, tampil terlebih dulu duo eksperimental asal Brazil Sewing Machine Duet. Duo ini dibawa oleh Ruang Gulma dalam rangka tur mereka di 5 kota di Indonesia. Menggunakan mesin dan alat-alat jahit sebagai instrumen, duo ini memainkan bebunyian ganjil yang cukup mencuri perhatian.

Lepas itu, lineup dimulai dengan band-band yang termasuk dalam album WARN!NG Compilation Vol.1 – 2017 ini. Umar Haen mengawali line up malam itu. Membawakan tembang folk rancak seperti “Kisah Kampungku”, dan “Tak Ada Nalar Menuju Rumah”, Umar Haen berhasil menyulut suasana hangat yang menular. Trio Agoni yang biasanya tampil akustik malam itu mengisi departemen drum dan menghentak panggung lewat lagu-lagunya. “Aku Harap Laguku”, yang masuk ke kompilasi malam itu dibawakan dengan lebih bertenaga. Moshpit pun dimulai tak lama setelah itu. Ruff-riff seduktif Ace Mojo berhasil memancing penonton berkerumun dekat dengan stage yang memang dibuat tak berjarak dari penonton itu. Kuartet asal Solo ini masuk ke kompilasi lewat “After The Rain”, lagu yang mengisahkan perjalanan band mereka sendiri hingga ke formasi saat ini.

Summerchild setelahnya membuat penonton yang masih di belakang merangsek ke depan. Band yang beberapa bulan lalu baru meluncurkan albumnya Risau ini mengawali moshing dan crowdsurfing yang sambung-menyambung hingga penampil terakhir. “Intisari” yang masuk ke kompilasi WARN!NG dinyanyikan meriah oleh crowd yang sesekali maju merebut microphone. Satu hal yang menarik malam itu adalah bahwa ada juga perempuan yang menikmati crowd surfer, hal yang jarang ditemui di acara lain.

Namun massa tak hanya berfokus di depan panggung. Di area outdoor beberapa lingkaran manusia berkerumun dalam jumlah besar. Cengkrama hangat mengambang di udara disertai botol yang sesekali mendenting dan tawa lepas yang intim. Hari itu, enam lapak komunitas turut meramaikan acara. Mereka adalah Klub Bangsawan, Needle and Bitch, Gigi Nyala, Jogja Records Store Club, Barasub x Flock Project dan satu lapak istimewa. Lapak ini diinisiasi oleh WARN!NG, Buku Akik, dan Berdikari Book sebagai lapak donasi untuk mendukung perjuangan kawan-kawan di Kendeng. Berbagai barang dijual seperti kaos, patch, minuman fermentasi, artprint, buku dan notebook. Semua keuntungan dari lapak ini akan disalurkan ke Kendeng. “Ini adalah inisiasi kami, supaya jadi bukti kalau anak muda nggak cuma bisa pesta aja, tapi pesta sambil tetap bersolidaritas mendukung perjuangan kawan-kawan di sana,” ujar Tomi Wibisono dari WARN!NG.

Kembali ke area gig, unit postrock terdepan Yogya saat ini, Niskala tampil kemudian. Venue yang dibuat remang-remang nampaknya makin membebaskan energi para penonton. Nomor-nomor instrumental yang intens dan dreamy di beberapa titik ini membuat banyak kepala mengangguk-angguk pasrah mengikuti irama. “Legacy Of The Moon”, single terbaru mereka dimainkan sebagai pamungkas. Jeda kemudian tak berlangsung cukup lama, satu tegukan di lingkaran kawan sampai Kota & Ingatan memulai setlistnya. Unit anyar asal Yogyakarta ini mengangkat narasi manusia dan konflik di perkotaan sebagai tulang punggung lagu-lagunya, kesemuanya dibungkus dalam balutan musik rock bertenaga. Larik “Peluru peluru kan mencarimu.. peluru peluru kan mencarimu..”  dari lagu “Peluru” sempat jadi anthem yang dinyanyikan paling nyaring dengan tangan mengepal malam itu. Hentakan-hentakan kaki meliar, peluh bercampur lewat sikut dan lengan yang saling bersenggolan tak beraturan, diakhiri dengan tepuk tangan meriah. Sebagai pamungkas, Marmolys mengokupasi panggung. Crowd sudah mendidih, moshing sudah panas bahkan sebelum reff pertama disudahi. Berkali-kali personil Marmolys diangkat bak adegan pemujaan. “Cosmic Still” jadi pamungkas jitu. Liukan-likuan psychedelic yang dibusuri oleh lengking vokal tajam yang menyoal eksistensi diri ini seperti hiptonis pencabut rasa sungkan di moshpit. Angkat, sikut, lari, goyang, cabikan-cabikan gitar menawan dan diakhiri dengan teriakan dan tepuk tangan panjang. Tuntas sudah, tujuh band kompilasi malam itu menampilkan performa terbaik mereka. Tak sedikitpun tensi sempat turun.

Malam itu WARN!NG juga bekerjasama dengan kolektif komik BARASUB untuk memproduksi boxset kompilasi terbatas dengan jumlah 30 buah. Boxset ini dibuat khusus untuk merayakan event ini “Pinginnya ini berlanjut sih jadi ada volume 2, 3 dan seterusnya, agar makin banyak karya teman-teman yang terwadahi juga. Makin banyak wadah kan mengundang makin banyak karya dan kolaborasi,” ujar Titah AW. . Selain itu, album kompilasi WARN!NG Ini sudah terdistribusi lewat kanal streaming online dan tautan unduh yang bisa diakses lewat web WARN!NGMAGZ.





Related: